Tangerang, 21 Agustus 2026 — Persediaan merupakan bagian penting dalam operasional bisnis, terutama bagi perusahaan manufaktur dan distributor. Ketersediaan stok yang cukup membantu perusahaan memenuhi kebutuhan pelanggan sekaligus menjaga proses operasional tetap berjalan.
Namun, memiliki stok dalam jumlah besar tidak selalu berarti bisnis berada dalam kondisi aman. Ketika barang terlalu lama tersimpan di gudang, persediaan justru dapat menjadi beban. Modal yang seharusnya dapat digunakan untuk operasional, pengembangan bisnis, atau kebutuhan lainnya akhirnya tertahan dalam bentuk barang.
Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya mengetahui berapa banyak stok yang tersedia. Perusahaan juga perlu memahami berapa lama stok tersebut sudah berada di gudang dan apakah persediaan tersebut masih bergerak sesuai kebutuhan bisnis.
Salah satu cara untuk melihat kondisi tersebut adalah melalui inventory aging.
Table of Contents
Stok Banyak Tidak Selalu Berarti Bisnis Lebih Aman
Memiliki persediaan dalam jumlah besar sering dianggap sebagai langkah untuk mengantisipasi permintaan pelanggan. Namun, keputusan tersebut tetap perlu didukung oleh perencanaan inventory yang tepat.
Stok yang terlalu banyak dapat meningkatkan biaya penyimpanan, membutuhkan ruang gudang lebih besar, serta meningkatkan risiko barang rusak, kedaluwarsa, atau mengalami penurunan nilai.
Di sisi lain, stok yang terlalu sedikit juga dapat menimbulkan masalah. Perusahaan bisa mengalami stockout, kehilangan kesempatan penjualan, atau bahkan menghambat proses produksi karena bahan yang dibutuhkan tidak tersedia.
Artinya, pengelolaan inventory bukan sekadar memastikan barang selalu tersedia. Perusahaan juga perlu mengetahui kondisi dan usia persediaan yang masih tersimpan di gudang.
Jangan Hanya Melihat Jumlah Stok
Bayangkan sebuah perusahaan memiliki 10.000 unit barang di gudang. Secara angka, jumlah tersebut mungkin terlihat aman.
Namun, bagaimana jika sebagian besar barang tersebut ternyata sudah tersimpan selama berbulan-bulan?
Informasi mengenai jumlah stok saja belum cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Perusahaan perlu mengetahui:
- Barang apa yang sudah lama tersimpan?
- Berapa banyak stok yang masuk dalam kategori lama?
- Di gudang mana stok tersebut berada?
- Berapa nilai persediaan yang masih tertahan?
- Apakah stok tersebut masih memiliki permintaan yang cukup?
Dengan mengetahui informasi tersebut, perusahaan dapat lebih mudah menentukan apakah perlu melakukan penyesuaian pembelian, mengevaluasi permintaan, mengatur produksi, atau mempercepat pergerakan barang.
Apa Itu Inventory Aging?
Inventory aging merupakan informasi yang membantu perusahaan melihat usia persediaan berdasarkan berapa lama barang tersebut telah berada dalam inventory.
Dengan melihat umur stok berdasarkan rentang waktu, perusahaan dapat mengidentifikasi persediaan yang masih relatif baru maupun stok yang sudah tersimpan cukup lama.
Misalnya, persediaan dapat dikelompokkan berdasarkan rentang umur tertentu seperti:
- 0–30 hari
- 31–60 hari
- 61–90 hari
- Lebih dari 90 hari
Pengelompokan tersebut membantu perusahaan melihat apakah sebagian besar inventory masih bergerak secara normal atau mulai terdapat stok yang terlalu lama tersimpan.
SAP Business One memiliki Inventory Aging Report yang dapat digunakan untuk mengetahui umur dan nilai inventory. Laporan tersebut dapat disusun berdasarkan item, warehouse, strategi pengeluaran inventory seperti FIFO atau LIFO, metode valuasi, serta rentang waktu tertentu.
Kenapa Inventory Aging Penting untuk Bisnis?
Mengetahui usia persediaan dapat membantu perusahaan mengambil keputusan dengan lebih tepat.
Misalnya, jika terdapat produk yang sudah lama tersimpan, perusahaan dapat mengevaluasi kembali apakah pembelian sebelumnya terlalu banyak, permintaan pelanggan mengalami perubahan, atau perencanaan produksi perlu disesuaikan.
Informasi tersebut juga dapat membantu perusahaan memberikan perhatian lebih kepada slow-moving inventory, yaitu barang yang pergerakannya relatif lambat.
Dengan begitu, perusahaan tidak hanya bertanya:
“Berapa banyak stok yang kita punya?”
Tetapi juga:
“Berapa lama stok tersebut sudah tersimpan dan berapa nilainya?”
Pertanyaan kedua menjadi penting karena inventory yang terlalu lama tersimpan dapat membuat modal kerja tidak segera kembali menjadi arus kas.
Apa yang Menyebabkan Inventory Menumpuk?
Stok yang menumpuk dapat terjadi karena berbagai faktor.
Salah satunya adalah pembelian yang tidak sesuai dengan kebutuhan aktual. Perusahaan mungkin melakukan pembelian dalam jumlah besar untuk mendapatkan harga lebih murah atau mengantisipasi permintaan, tetapi ternyata penjualan tidak sesuai perkiraan.
Perubahan tren dan permintaan pelanggan juga dapat menyebabkan produk yang sebelumnya memiliki permintaan tinggi menjadi lebih lambat terjual.
Pada perusahaan manufaktur, perencanaan produksi yang kurang sesuai dengan kebutuhan aktual juga dapat menyebabkan bahan baku maupun barang jadi menumpuk.
Selain itu, data inventory yang masih tersebar di berbagai file atau sistem dapat membuat perusahaan kesulitan mendapatkan gambaran yang menyeluruh mengenai kondisi persediaan.
Peran Inventory Aging dalam Pengelolaan Inventory
Pengelolaan inventory akan menjadi lebih efektif ketika data persediaan terhubung dengan proses bisnis lainnya.
ERP dapat mengintegrasikan informasi seperti purchasing, sales, inventory, warehouse, production, dan finance sehingga perusahaan memiliki gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi bisnis.
Dalam SAP Business One, perusahaan dapat menggunakan berbagai laporan inventory untuk menganalisis kondisi persediaan. Selain Inventory Aging Report, SAP Business One juga menyediakan Inventory Turnover Analysis yang dapat membantu mengidentifikasi apakah terdapat item yang pergerakannya lambat.
Pada Inventory Aging Report, perusahaan dapat menentukan kriteria seperti item, warehouse, tanggal laporan, strategi issue, metode valuasi, serta rentang waktu inventory. Laporan juga dapat menampilkan detail terkait inventory yang masih berada dalam stok.
Dengan informasi tersebut, perusahaan dapat melihat inventory tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga dari usia, nilai, dan pergerakannya.
SAP Business One dapat menjadi salah satu solusi yang dipertimbangkan perusahaan untuk mengelola proses bisnis secara terintegrasi, termasuk inventory.
Jangan Biarkan Modal Terlalu Lama Tertahan di Gudang
Stok yang menumpuk bukan hanya persoalan kapasitas gudang. Di balik persediaan yang terlalu lama tersimpan, terdapat modal perusahaan yang belum kembali menjadi arus kas.
Karena itu, perusahaan perlu melihat inventory secara lebih menyeluruh. Bukan hanya:
“Berapa banyak stok yang tersedia?”
Tetapi juga:
“Berapa lama stok tersebut sudah tersimpan?”
dan
“Berapa nilai modal yang masih tertahan di dalamnya?”
Inventory aging dapat membantu perusahaan menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan gambaran mengenai usia persediaan yang masih berada di gudang. Ketika informasi tersebut didukung data inventory yang terintegrasi, perusahaan dapat lebih mudah menentukan langkah berikutnya, mulai dari mengevaluasi pembelian, menyesuaikan production planning, hingga mengelola distribusi.
Jika perusahaan mulai kesulitan mengetahui pergerakan stok, menemukan banyak inventory yang sudah lama tersimpan, atau membutuhkan informasi persediaan yang lebih terintegrasi, mungkin sudah saatnya mengevaluasi kembali sistem yang digunakan.
Ingin mengetahui bagaimana sistem ERP dapat membantu perusahaan mengelola inventory dengan lebih terintegrasi? Konsultasikan kebutuhan bisnis Anda bersama BeOne Solution dan temukan bagaimana SAP Business One dapat mendukung pengelolaan inventory perusahaan Anda.
