BeOne Solution

Kapan Harus Produksi dan Kapan Harus Beli? Memahami Make or Buy dalam Manufaktur

Tangerang, 02 September 2026 — Dalam bisnis manufaktur, perusahaan tidak selalu harus membuat seluruh komponen yang digunakan dalam produknya sendiri.

Ada material atau komponen yang lebih efisien jika diproduksi secara internal. Namun, pada kondisi tertentu, membeli dari supplier justru dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai.

Keputusan tersebut dikenal sebagai make or buy decision.

Secara sederhana, make berarti perusahaan memilih untuk memproduksi komponen atau material secara internal, sedangkan buy berarti perusahaan memperoleh kebutuhan tersebut dari supplier.

Keputusan ini terlihat sederhana, tetapi dalam praktiknya perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai faktor seperti biaya, kapasitas produksi, kemampuan mesin, kualitas, lead time, ketersediaan material, hingga kebutuhan pelanggan.

Jika keputusan tidak dibuat berdasarkan informasi yang cukup, perusahaan dapat menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi, kapasitas yang tidak optimal, atau bahkan keterlambatan produksi.

Apa Itu Make or Buy dalam Manufaktur?

Make or buy adalah proses menentukan apakah suatu komponen, bahan, atau produk pendukung sebaiknya:

  • diproduksi sendiri (make); atau
  • dibeli dari supplier (buy).

Misalnya, sebuah perusahaan manufaktur memproduksi produk elektronik dan membutuhkan komponen casing.

Perusahaan memiliki dua pilihan.

Make:
Casing diproduksi sendiri menggunakan mesin dan tenaga kerja internal.

Buy:
Casing dibeli dari supplier yang sudah memiliki kemampuan produksi komponen tersebut.

Pilihan yang tepat tidak selalu sama untuk setiap kondisi. Perusahaan perlu membandingkan kebutuhan dan konsekuensi dari kedua opsi tersebut.

Kapan Perusahaan Sebaiknya Memilih “Make”?

Produksi internal dapat dipertimbangkan ketika perusahaan memiliki kapasitas dan sumber daya yang memadai.

1. Kapasitas Produksi Masih Tersedia

Jika mesin dan tenaga kerja masih memiliki kapasitas yang cukup, perusahaan mungkin dapat memanfaatkan kapasitas tersebut untuk memproduksi komponen sendiri.

Hal ini dapat menjadi pertimbangan terutama ketika kapasitas produksi yang tersedia belum digunakan secara optimal.

Namun, perusahaan juga perlu memastikan bahwa tambahan produksi tidak mengganggu production order lainnya.

2. Biaya Produksi Internal Lebih Terukur

Perusahaan dapat membandingkan biaya material, tenaga kerja, penggunaan mesin, overhead, dan biaya terkait lainnya.

Jika biaya produksi internal dapat dikendalikan dan sesuai dengan target biaya perusahaan, opsi make dapat dipertimbangkan.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan hanya membandingkan harga supplier dengan biaya bahan baku.

Produksi internal juga memiliki biaya tenaga kerja, mesin, energi, maintenance, quality control, dan overhead.

3. Kualitas Menjadi Faktor Penting

Untuk komponen tertentu, perusahaan mungkin membutuhkan kontrol kualitas yang lebih ketat.

Produksi internal dapat memberikan kontrol yang lebih besar terhadap proses produksi dan standar kualitas.

Namun, hal tersebut juga berarti perusahaan perlu memiliki proses quality control dan sumber daya yang mendukung.

4. Komponen Bersifat Strategis

Ada komponen tertentu yang memiliki pengaruh besar terhadap produk akhir atau menjadi bagian penting dari proses bisnis.

Dalam kondisi seperti ini, perusahaan dapat mempertimbangkan produksi internal agar memiliki kontrol lebih besar terhadap ketersediaan, kualitas, dan proses produksinya.

Kapan Lebih Baik Memilih “Buy”?

Sebaliknya, membeli dari supplier dapat menjadi pilihan ketika produksi internal tidak memberikan manfaat yang cukup besar.

1. Kapasitas Produksi Terbatas

Jika kapasitas mesin sudah hampir penuh, menambahkan production order baru dapat mengganggu jadwal produksi yang sudah berjalan.

Membeli komponen dari supplier dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan tanpa menambah beban produksi internal.

Misalnya:

Kapasitas penuh → Order tambahan masuk → Komponen perlu tersedia → Buy dari supplier

Dengan demikian, perusahaan dapat menjaga kapasitas internal untuk produk atau komponen yang lebih prioritas.

2. Supplier Memiliki Biaya yang Lebih Kompetitif

Supplier yang sudah memproduksi komponen dalam jumlah besar mungkin memiliki skala produksi yang lebih efisien.

Dalam kondisi tertentu, harga pembelian dari supplier dapat lebih rendah dibandingkan total biaya produksi internal.

Namun, perusahaan tetap perlu memperhitungkan biaya lain seperti pengiriman, minimum order, quality inspection, dan risiko keterlambatan.

3. Perusahaan Tidak Memiliki Teknologi yang Dibutuhkan

Tidak semua perusahaan memiliki mesin atau teknologi untuk memproduksi setiap komponen.

Jika investasi mesin baru terlalu besar dibandingkan kebutuhan produksi, membeli dari supplier dapat menjadi alternatif.

4. Kebutuhan Bersifat Tidak Rutin

Jika komponen hanya dibutuhkan sesekali dalam jumlah kecil, membuat proses produksi khusus untuk komponen tersebut mungkin kurang praktis.

Dalam kondisi seperti ini, purchasing dapat menjadi pilihan yang lebih fleksibel.

Jangan Hanya Membandingkan Harga

Salah satu kesalahan dalam keputusan make or buy adalah hanya membandingkan:

Harga Produksi Internal vs Harga Supplier

Padahal, keputusan tersebut perlu mempertimbangkan lebih banyak faktor.

Misalnya:

Dengan membandingkan faktor-faktor tersebut, perusahaan dapat melihat konsekuensi dari setiap pilihan secara lebih menyeluruh.

Make or Buy Juga Berkaitan dengan Lead Time

Biaya bukan satu-satunya faktor.

Lead time juga sangat penting.

Misalnya perusahaan membutuhkan sebuah komponen untuk production order yang akan dimulai dalam 10 hari.

Supplier membutuhkan 14 hari untuk memenuhi pesanan.

Meskipun harga supplier lebih murah, opsi tersebut dapat menimbulkan masalah karena komponen tidak tersedia ketika produksi dimulai.

Sebaliknya, jika produksi internal dapat menyelesaikan komponen tersebut dalam lima hari dan kapasitas tersedia, make mungkin lebih sesuai dari sisi waktu.

Karena itu, keputusan make or buy perlu dikaitkan dengan jadwal produksi dan kebutuhan material.

Bagaimana dengan Kebutuhan Material?

Make or buy juga berkaitan erat dengan perencanaan material.

Ketika perusahaan memilih make, maka akan muncul kebutuhan seperti:

Production Order → BOM → Material Requirement → Production

Sementara ketika memilih buy, prosesnya dapat menjadi:

Material Requirement → Purchase Order → Supplier → Goods Receipt → Inventory

Artinya, pilihan make atau buy dapat memengaruhi proses berikutnya dalam operasional perusahaan.

Jika informasi kebutuhan material tidak terintegrasi, perusahaan dapat kesulitan mengetahui apakah suatu kebutuhan harus dipenuhi melalui production order atau purchasing.

Peran MRP dalam Make or Buy

Dalam proses manufaktur, Material Requirements Planning (MRP) dapat membantu perusahaan merencanakan kebutuhan material berdasarkan informasi seperti production order, BOM, inventory, forecast, dan kebutuhan pengadaan.

Informasi tersebut dapat membantu perusahaan mengidentifikasi material yang perlu tersedia untuk memenuhi rencana produksi.

Ketika dikombinasikan dengan data inventory dan purchasing, perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kebutuhan material yang perlu diproduksi maupun diperoleh dari supplier.

Dengan demikian, keputusan make or buy tidak hanya dibuat berdasarkan perkiraan, tetapi dapat didukung oleh data kebutuhan produksi dan material.

Mengapa Data Terintegrasi Penting?

Keputusan make or buy dapat melibatkan beberapa bagian sekaligus:

Production → Inventory → Purchasing → Warehouse → Finance

Production perlu mengetahui kapasitas.

Inventory perlu mengetahui ketersediaan material.

Purchasing perlu mengetahui kebutuhan pengadaan.

Finance perlu mengetahui dampak biaya.

Jika setiap bagian memiliki data yang berbeda, proses pengambilan keputusan dapat menjadi lebih sulit.

ERP dapat membantu menghubungkan informasi tersebut sehingga perusahaan memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap kondisi operasional.

Salah satu solusi ERP yang mendukung proses manufaktur dan pengadaan adalah SAP Business One, yang menyediakan fungsi untuk mengelola proses seperti production, inventory, purchasing, dan MRP dalam satu sistem.

Dengan informasi yang terintegrasi, perusahaan dapat lebih mudah menghubungkan kebutuhan produksi dengan kebutuhan material dan proses pengadaan.

Make atau Buy Bukan Keputusan yang Selalu Sama

Tidak ada satu pilihan yang selalu tepat untuk semua kondisi.

Komponen yang saat ini lebih efisien untuk dibeli belum tentu selalu menjadi pilihan terbaik di masa depan.

Perubahan volume produksi, harga material, kapasitas mesin, kemampuan supplier, lead time, dan kebutuhan pelanggan dapat mengubah keputusan tersebut.

Karena itu, perusahaan perlu mengevaluasi keputusan make or buy berdasarkan kondisi bisnis dan kebutuhan produksi yang aktual.

Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan sebagai bahan evaluasi antara lain:

  • Apakah kapasitas produksi masih tersedia?
  • Berapa total biaya produksi internal?
  • Berapa biaya pembelian dari supplier?
  • Berapa lead time masing-masing pilihan?
  • Apakah kualitas dapat dikontrol?
  • Apakah komponen bersifat strategis?
  • Apakah kebutuhan bersifat rutin atau sementara?
  • Apakah supplier dapat memenuhi kebutuhan tepat waktu?
  • Bagaimana dampaknya terhadap production schedule?

Make or Buy Perlu Didukung Data yang Akurat

Pada akhirnya, keputusan make or buy bukan hanya persoalan memilih antara produksi sendiri atau membeli dari supplier.

Keputusan tersebut berkaitan dengan bagaimana perusahaan mengelola biaya, kapasitas, inventory, purchasing, production planning, dan kebutuhan material secara bersamaan.

Tanpa data yang akurat, perusahaan dapat memilih opsi yang terlihat murah tetapi justru menimbulkan biaya atau risiko lain.

Sebaliknya, dengan informasi yang terintegrasi, perusahaan dapat memiliki dasar yang lebih baik untuk mengevaluasi pilihan produksi maupun pengadaan sesuai kebutuhan bisnis.

Optimalkan Production dan Purchasing dengan BeOne

Bagi perusahaan manufaktur, keputusan make or buy menjadi semakin kompleks ketika jumlah produk, material, production order, dan supplier semakin banyak.

SAP Business One dapat membantu mengintegrasikan proses production, inventory, purchasing, dan MRP sehingga informasi kebutuhan material dan proses operasional dapat dikelola dalam satu sistem.

Dengan dukungan sistem yang terintegrasi, perusahaan dapat memperoleh visibilitas yang lebih baik untuk mendukung perencanaan produksi dan pengadaan.

Konsultasikan kebutuhan manufaktur bisnis Anda bersama BeOne Solution untuk mengetahui bagaimana solusi ERP dapat disesuaikan dengan proses production, inventory, dan purchasing di perusahaan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *