Table of Contents
ERP untuk Make to Stock vs Make to Order: Mana yang Cocok untuk Bisnis Anda?
Tangerang, 12 Agustus 2026 — Menentukan berapa banyak produk yang harus diproduksi menjadi salah satu tantangan penting bagi perusahaan manufaktur. Produksi terlalu banyak dapat menyebabkan inventory menumpuk dan meningkatkan biaya penyimpanan. Sebaliknya, produksi terlalu sedikit dapat membuat perusahaan kesulitan memenuhi permintaan pelanggan.
Untuk mengatasi kebutuhan tersebut, perusahaan dapat menerapkan strategi Make to Stock (MTS) atau Make to Order (MTO). Kedua strategi memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengelola produksi, inventory, dan kebutuhan pelanggan. Karena itu, pemilihannya perlu disesuaikan dengan karakteristik bisnis dan produk yang dihasilkan.
Dengan dukungan ERP untuk Make to Stock vs Make to Order, perusahaan dapat mengintegrasikan proses penjualan, inventory, purchasing, dan production planning agar keputusan produksi dapat dibuat berdasarkan data yang lebih akurat.
Menjaga Ketersediaan Produk dengan Make to Stock
Pada strategi Make to Stock, perusahaan memproduksi barang berdasarkan perkiraan permintaan atau forecast sebelum pelanggan melakukan pemesanan. Produk yang sudah selesai diproduksi kemudian disimpan sebagai inventory dan siap dikirim ketika terdapat pesanan.
Pendekatan ini cocok untuk produk dengan permintaan yang relatif stabil dan dapat diprediksi. Salah satu keuntungannya adalah perusahaan dapat memenuhi pesanan lebih cepat karena produk sudah tersedia di gudang.
Namun, Make to Stock juga memiliki tantangan. Forecast yang terlalu tinggi dapat menyebabkan overstock, meningkatkan biaya penyimpanan, dan membuat modal perusahaan tertahan dalam inventory. Sebaliknya, forecast yang terlalu rendah dapat menyebabkan stockout sehingga perusahaan tidak mampu memenuhi permintaan pelanggan.
Karena itu, perusahaan yang menerapkan MTS membutuhkan forecasting dan inventory management yang baik.
Memproduksi Berdasarkan Pesanan dengan Make to Order
Berbeda dengan MTS, Make to Order memungkinkan perusahaan memulai produksi setelah menerima pesanan dari pelanggan. Strategi ini cocok untuk produk yang memiliki spesifikasi khusus, banyak variasi, atau permintaannya sulit diprediksi.
Salah satu keuntungan MTO adalah perusahaan tidak perlu menyimpan produk jadi dalam jumlah besar. Produksi dilakukan berdasarkan kebutuhan aktual sehingga risiko overstock dapat dikurangi.
Namun, perusahaan perlu memperhatikan production lead time. Karena produksi baru dimulai setelah order diterima, pelanggan mungkin harus menunggu lebih lama. Perusahaan juga harus memastikan bahan baku, kapasitas produksi, tenaga kerja, dan jadwal produksi tersedia agar pesanan dapat diselesaikan sesuai target.
Make to Stock vs Make to Order, Mana yang Lebih Cocok?
Tidak ada strategi yang secara otomatis lebih baik untuk semua perusahaan.
Make to Stock dapat menjadi pilihan ketika permintaan produk relatif stabil, perusahaan memiliki forecast yang cukup akurat, dan pelanggan membutuhkan produk dalam waktu singkat.
Sementara Make to Order dapat lebih sesuai untuk perusahaan dengan produk custom, permintaan yang fluktuatif, atau kebutuhan untuk mengurangi persediaan produk jadi.
Perusahaan juga tidak harus menggunakan satu strategi untuk seluruh produknya. Kombinasi Make to Stock dan Make to Order dapat diterapkan berdasarkan karakteristik masing-masing produk. Produk dengan permintaan tinggi dan stabil dapat diproduksi untuk stock, sedangkan produk dengan spesifikasi khusus dapat dibuat berdasarkan pesanan.
Bagaimana ERP Mendukung Kedua Strategi Produksi?
Pada Make to Stock, ERP dapat membantu menghubungkan data penjualan, forecast, dan inventory untuk menentukan kebutuhan produksi. Perusahaan dapat memantau kondisi stok dan menyesuaikan produksi berdasarkan kebutuhan.
Sedangkan pada Make to Order, ERP dapat menghubungkan sales order dengan kebutuhan material dan proses produksi. Informasi tersebut membantu perusahaan mengetahui ketersediaan bahan baku, kebutuhan purchasing, serta kapasitas produksi yang diperlukan untuk menyelesaikan pesanan.
Dengan data yang terintegrasi, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan terhadap spreadsheet dan proses pencatatan manual. Informasi dari berbagai bagian bisnis juga dapat digunakan secara bersama-sama untuk mendukung pengambilan keputusan. Kedua fitur tersebut ada di software SAP Business One.
Optimalkan Produksi dengan SAP Business One
SAP Business One membantu perusahaan mengintegrasikan berbagai proses bisnis, termasuk sales, purchasing, inventory, production planning, dan finance dalam satu sistem.
Integrasi tersebut memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap kondisi inventory dan proses produksi. Perusahaan dapat menggunakan informasi yang tersedia untuk membantu merencanakan kebutuhan material, memantau proses produksi, serta menyesuaikan operasional dengan kebutuhan pelanggan.
SAP Business One membantu perusahaan mengelola strategi Make to Stock maupun Make to Order secara lebih terstruktur sesuai kebutuhan bisnis.
Pilih Strategi Produksi yang Tepat untuk Bisnis Anda
Make to Stock dan Make to Order memiliki kelebihan serta tantangan masing-masing. MTS dapat membantu perusahaan memenuhi permintaan dengan lebih cepat, sedangkan MTO dapat membantu mengurangi risiko persediaan produk jadi yang berlebihan.
Pilihan terbaik bergantung pada karakteristik produk, pola permintaan, kapasitas produksi, kebutuhan inventory, dan target pelayanan pelanggan.
Dengan SAP Business One, seluruh proses bisnis dapat terhubung dalam satu sistem, sehingga perusahaan lebih mudah mengatur produksi, memantau inventory, dan mengambil keputusan berdasarkan data yang terintegrasi.
Optimalkan proses produksi dan inventory perusahaan Anda dengan solusi ERP yang sesuai. Konsultasikan kebutuhan bisnis Anda bersama BeOne Solution.
