BeOne Solution

Kenapa Lead Time Supplier Bisa Mengacaukan Jadwal Produksi?

Tangerang, 30 September 2026 — Dalam bisnis manufaktur, jadwal produksi tidak hanya ditentukan oleh kapasitas mesin dan tenaga kerja. Ketersediaan bahan baku juga menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah produksi dapat berjalan sesuai rencana.

Masalahnya, bahan baku tidak selalu bisa tersedia ketika dibutuhkan.

Perusahaan mungkin sudah memiliki jadwal produksi yang jelas, tetapi material yang dibutuhkan masih dalam proses pemesanan. Supplier membutuhkan waktu beberapa hari atau bahkan beberapa minggu untuk memenuhi pesanan. Ketika waktu kedatangan material lebih lama dibandingkan waktu yang tersedia sebelum produksi dimulai, jadwal produksi pun dapat ikut berubah.

Kondisi inilah yang membuat lead time supplier menjadi bagian penting dalam perencanaan produksi.

Apa Itu Lead Time Supplier?

Lead time supplier adalah waktu yang dibutuhkan sejak perusahaan melakukan pemesanan hingga material diterima dan dapat digunakan.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan membutuhkan bahan baku pada 15 Oktober. Supplier membutuhkan waktu 10 hari untuk memenuhi pesanan.

Artinya, perusahaan perlu mempertimbangkan waktu pemesanan jauh sebelum tanggal material tersebut dibutuhkan.

Secara sederhana:

Purchase Order → Proses Supplier → Pengiriman → Penerimaan Material → Material Siap Digunakan

Jika salah satu tahapan membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan, material dapat datang terlambat.

Masalahnya menjadi lebih besar ketika kebutuhan material tersebut berkaitan langsung dengan production order yang sudah memiliki jadwal.

Bagaimana Lead Time Supplier Memengaruhi Produksi?

Bayangkan sebuah pabrik memiliki production order yang dijadwalkan pada 20 Oktober.

Berdasarkan Bill of Materials (BOM), produksi membutuhkan:

  •       500 kg bahan baku A
  •       300 kg bahan baku B
  •       100 unit komponen C

Bahan A dan B sudah tersedia di gudang. Namun, komponen C harus dibeli dari supplier dengan lead time 14 hari.

Jika kebutuhan komponen C baru diketahui pada 10 Oktober, perusahaan hanya memiliki waktu 10 hari sebelum produksi dimulai.

Dengan lead time 14 hari, terdapat potensi material belum diterima ketika production order seharusnya dimulai.

Akibatnya:

Material belum tersedia → Production Order tertunda → Jadwal produksi berubah → Produk selesai lebih lambat

Inilah mengapa perencanaan produksi perlu mempertimbangkan kapan material dibutuhkan, bukan hanya berapa banyak material yang dibutuhkan.

5 Kondisi yang Sering Membuat Lead Time Menjadi Masalah

1. Kebutuhan Material Baru Diketahui Menjelang Produksi

Salah satu masalah yang sering terjadi adalah perusahaan baru mengetahui kekurangan material ketika production order sudah dekat dengan tanggal produksi.

Padahal, material tertentu mungkin membutuhkan waktu pengadaan yang cukup panjang.

Jika kebutuhan material sudah diketahui lebih awal, purchasing memiliki waktu untuk melakukan pemesanan dan memantau proses pengiriman.

Sebaliknya, jika kebutuhan baru diketahui beberapa hari sebelum produksi, pilihan perusahaan menjadi lebih terbatas.

2. Lead Time Setiap Supplier Berbeda

Tidak semua supplier memiliki waktu pengiriman yang sama.

Supplier A mungkin dapat mengirim material dalam tiga hari, sedangkan Supplier B membutuhkan dua minggu.

Perbedaan tersebut perlu diperhitungkan ketika perusahaan membuat perencanaan material.

Jika perusahaan menggunakan asumsi waktu pengadaan yang sama untuk semua material, hasil perencanaan dapat menjadi kurang akurat.

Karena itu, informasi mengenai supplier dan lead time menjadi bagian penting dalam proses procurement dan material planning.

3. Lead Time Aktual Berbeda dari Lead Time yang Direncanakan

Lead time yang digunakan dalam perencanaan belum tentu sama dengan waktu pemenuhan aktual supplier.

Misalnya, master data mencatat lead time 7 hari. Namun, berdasarkan riwayat pemenuhan, supplier rata-rata membutuhkan 10 hari, dan dalam kondisi tertentu bisa mencapai 14 hari.

  • Jika planning tetap menggunakan 7 hari, kebutuhan material dapat terlihat aman di sistem, padahal ada risiko material belum tiba saat produksi dimulai.
  • Karena itu, perusahaan perlu membandingkan lead time yang direncanakan dengan performa aktual supplier secara berkala.
  • Informasi ini membantu purchasing dan production planning menggunakan asumsi waktu pengadaan yang lebih realistis.

4. Tidak Ada Mitigasi untuk Material Kritis

Untuk material tertentu, keterlambatan beberapa hari saja dapat mengganggu keseluruhan proses produksi.

Karena itu, perusahaan perlu mengetahui material mana yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap production schedule, terutama material dengan lead time panjang, kebutuhan tinggi, atau supplier yang tidak konsisten.

Mitigasi tidak selalu berarti menambah stok lebih banyak. Perusahaan dapat mempertimbangkan safety stock atau reorder point, melakukan pemesanan lebih awal, menyiapkan supplier alternatif, atau meningkatkan monitoring supplier performance sesuai karakteristik material.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengurangi risiko kekurangan material tanpa menjadikan penambahan inventory sebagai satu-satunya solusi.

5. Perubahan Jadwal Supplier Tidak Segera Masuk ke Production Planning

Jadwal kedatangan material dapat berubah setelah purchase order dibuat. Masalah muncul ketika perubahan tersebut tidak segera tercermin dalam production planning.

Misalnya, supplier awalnya menjanjikan expected arrival 12 Oktober, kemudian merevisi tanggal kedatangan menjadi 18 Oktober.

Jika production planning masih menggunakan tanggal 12 Oktober, production order dapat terlihat feasible, padahal material baru tersedia setelah jadwal produksi yang direncanakan.

Karena itu, perubahan expected arrival dan status purchase order perlu dipantau dan diperbarui secara konsisten agar production planning dapat menyesuaikan jadwal sebelum terjadi keterlambatan.

Jangan Hanya Bertanya “Kapan Material Datang?”

Dalam pengelolaan bahan baku, pertanyaan mengenai kedatangan material perlu dikaitkan dengan kebutuhan produksi.

Beberapa pertanyaan yang perlu dipantau antara lain:

  •       Kapan material dibutuhkan?
  •       Berapa jumlah yang dibutuhkan?
  •       Berapa stok yang tersedia?
  •       Apakah stok sudah dialokasikan untuk production order lain?
  •       Apakah material sedang dalam proses pembelian?
  •       Kapan supplier diperkirakan mengirim?
  •       Berapa lead time supplier?
  •       Apakah tanggal kedatangan sesuai dengan jadwal produksi?

Dengan melihat informasi tersebut secara bersamaan, perusahaan dapat mengetahui apakah material berpotensi tersedia tepat waktu.

MRP Membantu Menghubungkan Material dengan Jadwal Produksi

Di sinilah Material Requirements Planning (MRP) menjadi relevan bagi perusahaan manufaktur.

MRP membantu perusahaan merencanakan kebutuhan material berdasarkan berbagai informasi yang berkaitan dengan proses produksi.

Data seperti:

Production Order + BOM + Inventory + Purchase Order + Lead Time

dapat digunakan untuk membantu perusahaan melihat kebutuhan material dan menentukan tindakan pengadaan yang diperlukan.

Misalnya, perusahaan memiliki production order untuk bulan berikutnya. Sistem dapat membantu mengidentifikasi material yang belum mencukupi dan kebutuhan pengadaannya.

Dengan demikian, purchasing tidak hanya melakukan pembelian berdasarkan permintaan yang datang secara manual, tetapi dapat bekerja berdasarkan kebutuhan material yang terkait dengan rencana produksi.

Integrasi Purchasing dan Production Membantu Mengurangi Blind Spot

Dalam proses manufaktur, purchasing dan production sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat.

Production membutuhkan material.

Purchasing bertanggung jawab membantu menyediakan material tersebut.

Inventory menunjukkan apa yang sudah tersedia.

Supplier menentukan kapan material tambahan dapat diterima.

Jika informasi tersebut tersebar di berbagai sistem atau spreadsheet, perusahaan dapat mengalami kesulitan untuk mendapatkan gambaran yang sama mengenai kondisi terbaru.

ERP dapat membantu mengintegrasikan proses tersebut.

Salah satu solusi yang dapat mendukung kebutuhan tersebut adalah SAP Business One, yang menyediakan fungsi untuk mengelola berbagai proses bisnis termasuk purchasing, inventory, production, dan MRP dalam satu sistem.

Dengan integrasi tersebut, perusahaan dapat memperoleh visibilitas yang lebih baik mengenai kebutuhan material, status pengadaan, inventory, dan kaitannya dengan production order.

Lead Time Bukan Sekadar Urusan Purchasing

Lead time supplier sering dianggap sebagai tanggung jawab purchasing.

Padahal, dampaknya dapat meluas ke production planning, inventory, hingga customer delivery.

Ketika material datang terlambat:

Supplier terlambat → Material belum tersedia → Produksi tertunda → Produk belum selesai → Pengiriman berpotensi terlambat

Karena itu, lead time perlu menjadi bagian dari perencanaan bisnis secara keseluruhan.

Semakin kompleks proses manufaktur dan semakin banyak material yang digunakan, semakin penting bagi perusahaan untuk memiliki informasi yang terintegrasi.

Produksi Tepat Waktu Dimulai dari Perencanaan Material

Jadwal produksi yang terlihat realistis belum tentu dapat dijalankan jika kebutuhan material belum diperhitungkan dengan baik.

Perusahaan perlu melihat hubungan antara kebutuhan produksi, BOM, inventory, purchasing, supplier, dan lead time sebelum menentukan apakah sebuah production order benar-benar siap dijalankan.

Dengan perencanaan material yang lebih terstruktur, potensi kekurangan bahan baku dapat diketahui lebih awal dan purchasing memiliki waktu yang lebih memadai untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Pada akhirnya, menjaga produksi tetap berjalan bukan hanya tentang memiliki bahan baku, tetapi memastikan bahan baku tersedia pada waktu yang tepat.

Optimalkan Perencanaan Material dan Produksi Bersama BeOne

Ketika bisnis mulai menghadapi masalah seperti material yang sering datang terlambat, jadwal produksi yang harus berulang kali diubah, atau sulitnya menghubungkan purchasing dengan production planning, sistem ERP terintegrasi dapat membantu memberikan visibilitas yang lebih baik.

Melalui SAP Business One, proses inventory, purchasing, MRP, dan production dapat dikelola dalam satu ekosistem sehingga perusahaan memiliki informasi yang lebih terstruktur untuk mendukung perencanaan material dan produksi.

Konsultasikan kebutuhan manufaktur bisnis Anda bersama BeOne Solution dan temukan pendekatan yang sesuai dengan proses bisnis serta kebutuhan operasional perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *