Tangerang, 28 September 2026 — Dalam bisnis manufaktur, membuat jadwal produksi seringkali menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan pesanan dapat dipenuhi tepat waktu.
Production order sudah dibuat, kapasitas produksi sudah diperhitungkan, bahkan jadwal pengerjaan sudah ditentukan. Namun ketika waktu produksi tiba, muncul masalah yang cukup sering terjadi: bahan baku yang dibutuhkan ternyata belum siap.
Kondisi ini dapat terjadi meskipun perusahaan sebenarnya sudah memiliki sistem inventory dan purchasing. Masalahnya bukan selalu karena bahan baku tidak tersedia, tetapi karena proses perencanaan produksi, kebutuhan material, pengadaan, dan waktu kedatangan barang belum sepenuhnya terhubung.
Akibatnya, jadwal produksi yang sudah dibuat harus diubah, production order tertunda, dan pengiriman produk kepada pelanggan berpotensi ikut mengalami keterlambatan.
Table of Contents
Jadwal Produksi Tidak Sama dengan Kesiapan Produksi
Memiliki jadwal produksi berarti perusahaan sudah menentukan kapan sebuah produk akan diproduksi.
Namun, jadwal tersebut belum tentu menunjukkan bahwa seluruh kebutuhan produksi sudah tersedia.
Misalnya, sebuah pabrik menjadwalkan produksi 1.000 unit produk pada minggu pertama Oktober. Berdasarkan Bill of Materials (BOM), produksi tersebut membutuhkan beberapa bahan baku dengan jumlah tertentu.
Sebagian material mungkin sudah tersedia di gudang. Namun, beberapa bahan lainnya masih harus dipesan kepada supplier.
Jika material tersebut memiliki lead time dua minggu sementara produksi dimulai dalam lima hari, maka perusahaan sudah memiliki jadwal produksi, tetapi belum memiliki kesiapan material untuk menjalankannya.
Inilah mengapa production planning perlu melihat lebih jauh daripada sekadar kapasitas mesin atau tenaga kerja.
5 Hal yang Sering Terlewat Saat Menyusun Jadwal Produksi
1. Tidak Mengecek Kebutuhan Material Berdasarkan BOM
Setiap produk memiliki komposisi material yang berbeda. Bill of Materials (BOM) membantu perusahaan mengetahui bahan baku dan jumlah yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk.
Masalah dapat muncul ketika jadwal produksi dibuat tanpa menghubungkannya dengan kebutuhan material.
Contohnya, perusahaan memiliki rencana produksi 500 unit produk. Secara kapasitas, produksi tersebut dapat diselesaikan dalam beberapa hari.
Namun, ketika kebutuhan material dihitung berdasarkan BOM, ternyata salah satu bahan baku utama tidak mencukupi.
Jika kekurangan tersebut baru diketahui ketika produksi akan dimulai, perusahaan tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan pengadaan.
Karena itu, perencanaan produksi perlu selalu mempertimbangkan kebutuhan material.
2. Hanya Melihat Stok, Bukan Kebutuhan Produksi
Jumlah inventory yang tersedia juga belum tentu menunjukkan bahwa material cukup untuk production order tertentu.
Perusahaan perlu melihat hubungan antara:
Stok tersedia → Stok yang dialokasikan → Kebutuhan material → Production Order
Misalnya terdapat 1.000 unit bahan baku di gudang. Namun, 700 unit sudah dialokasikan untuk production order lain.
Jika production order berikutnya membutuhkan 500 unit, stok yang secara total terlihat besar ternyata tidak mencukupi kebutuhan aktual.
Dengan kata lain, jumlah stok perlu dilihat berdasarkan kebutuhan dan penggunaannya, bukan hanya angka total inventory.
3. Lead Time Supplier Tidak Diperhitungkan
Salah satu faktor yang sering terlewat adalah lead time pengadaan.
Material yang tidak tersedia mungkin harus dipesan terlebih dahulu. Setiap supplier memiliki waktu pemenuhan yang berbeda. Ada material yang dapat diterima dalam beberapa hari, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu berminggu-minggu.
Contohnya:
- Jadwal produksi: 10 Oktober
- Purchase order dibuat: 1 Oktober
- Lead time supplier: 14 hari
- Perkiraan material tiba: 15 Oktober
Dalam kondisi tersebut, production order berpotensi tidak dapat berjalan sesuai jadwal.
Karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan kapan material dibutuhkan, bukan hanya kapan purchase order dibuat.
4. Purchase Order Belum Terhubung dengan Perencanaan Produksi
Pengadaan material dan produksi seringkali melibatkan tim yang berbeda.
Tim produksi mengetahui kebutuhan produksi, sedangkan purchasing mengelola pemesanan kepada supplier.
Jika informasi antara kedua proses tersebut tidak terintegrasi, dapat muncul kondisi seperti:
Produksi mengira material sedang diproses oleh purchasing, sementara purchasing belum mengetahui bahwa material tersebut dibutuhkan lebih cepat.
Sebaliknya, purchasing mungkin sudah melakukan pemesanan, tetapi tanggal kedatangan material belum sesuai dengan jadwal produksi.
Integrasi informasi antara production, purchasing, dan inventory menjadi penting agar setiap pihak memiliki informasi yang sama.
5. Perubahan Jadwal Produksi Tidak Segera Terlihat
Dalam manufaktur, perubahan dapat terjadi kapan saja.
Pesanan pelanggan bisa bertambah, production order dapat berubah, material mengalami keterlambatan, atau kapasitas produksi harus disesuaikan.
Jika satu perubahan tidak segera terlihat oleh bagian lain, dampaknya dapat menyebar ke seluruh proses.
Contohnya:
Order bertambah → kebutuhan material meningkat → purchasing perlu melakukan pengadaan → lead time berubah → jadwal produksi perlu disesuaikan
Jika proses tersebut dilakukan secara manual melalui berbagai spreadsheet atau komunikasi terpisah, semakin sulit bagi perusahaan untuk mengetahui kondisi terbaru secara cepat.
Apa Dampaknya Jika Material Planning Terlambat?
Ketika bahan baku belum siap pada saat produksi seharusnya dimulai, masalah tidak berhenti pada satu production order.
Keterlambatan material dapat menyebabkan:
Material terlambat → Produksi tertunda → Jadwal produksi berubah → Produk selesai lebih lambat → Pengiriman berpotensi terlambat
Selain itu, tim operasional dapat menghabiskan banyak waktu untuk melakukan pengecekan:
- Apakah stok masih tersedia?
- Apakah material sudah dipesan?
- Kapan supplier mengirim?
- Berapa kebutuhan production order?
- Apakah ada material yang masih kurang?
- Apakah jadwal produksi perlu diubah?
Semakin banyak production order dan jenis material yang dikelola, semakin kompleks proses pengecekan tersebut.
MRP Membantu Menghubungkan Kebutuhan Material dengan Rencana Produksi
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan perusahaan manufaktur adalah Material Requirements Planning (MRP).
MRP membantu perusahaan menghitung kebutuhan material berdasarkan berbagai informasi seperti kebutuhan produksi, inventory, forecast, BOM, dan lead time.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya bertanya:
“Berapa stok bahan baku yang tersedia?”
Tetapi juga:
“Berapa material yang dibutuhkan, kapan dibutuhkan, dan apakah material tersebut akan tersedia saat produksi dimulai?”
Informasi ini membantu perusahaan mengidentifikasi potensi kekurangan material lebih awal.
Misalnya, ketika production order membutuhkan 1.000 unit bahan tertentu sementara inventory yang dapat digunakan hanya 400 unit, sistem dapat membantu menunjukkan adanya kebutuhan tambahan.
Perusahaan kemudian dapat merencanakan pengadaan berdasarkan kebutuhan dan waktu produksi yang sudah ditentukan.
Bagaimana ERP Membantu Menyatukan Proses?
Dalam perusahaan manufaktur, production planning tidak berdiri sendiri.
Ada beberapa proses yang saling berkaitan:
Sales Order → Production Planning → BOM → Material Requirement → Purchasing → Inventory → Production
Jika masing-masing proses menggunakan data yang terpisah, perubahan pada satu proses dapat terlambat diketahui oleh bagian lainnya.
ERP membantu mengintegrasikan informasi tersebut dalam satu sistem sehingga perusahaan dapat memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap kondisi operasional.
Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk kebutuhan tersebut adalah SAP Business One, yang menyediakan fungsi untuk membantu perusahaan mengelola proses bisnis seperti inventory, purchasing, sales, production, dan MRP dalam satu sistem.
Dengan data yang terintegrasi, perusahaan dapat lebih mudah melihat kebutuhan material berdasarkan production order dan merencanakan pengadaan sesuai kebutuhan produksi.
Produksi Tepat Waktu Dimulai dari Material yang Siap
Jadwal produksi yang baik bukan hanya tentang menentukan kapan produksi dimulai dan kapan produk selesai.
Perusahaan juga perlu memastikan bahwa seluruh kebutuhan yang mendukung produksi sudah dipersiapkan sebelumnya.
Mulai dari:
- kebutuhan material berdasarkan BOM;
- jumlah inventory yang benar-benar tersedia;
- material yang sudah dialokasikan;
- status purchase order;
- lead time supplier;
- hingga waktu material dibutuhkan oleh produksi.
Ketika informasi tersebut dapat dilihat secara terintegrasi, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk mengantisipasi kekurangan material sebelum mengganggu jadwal produksi.
Pada akhirnya, produksi tepat waktu tidak hanya bergantung pada mesin dan tenaga kerja, tetapi juga pada kesiapan material.
Optimalkan Perencanaan Produksi dan Material Bersama BeOne
Setiap perusahaan manufaktur memiliki karakteristik produksi, jumlah material, supplier, dan kebutuhan inventory yang berbeda.
Jika tim produksi masih harus mengecek stok, purchase order, kebutuhan BOM, dan jadwal kedatangan material dari beberapa spreadsheet atau aplikasi berbeda, risiko keterlambatan akan semakin besar seiring bertambahnya production order.
Konsultasikan kebutuhan bisnis Anda bersama BeOne Solution untuk memahami bagaimana solusi ERP dapat membantu mengintegrasikan proses inventory, purchasing, material planning, dan production dalam satu ekosistem bisnis.
